DUA

Baca BAB SATU terlebih dahulu…

“Ini udah jam 6. Saya sudah boleh pulang belum?”

“Belum, Bu. Kata Bapak Kepala, Bu Alea belum boleh pulang.”

Suara Alea meninggi, dia berdiri sambil menunjukkan arlojinya, “Tapi tiket kereta saya jam 7, Yon. Kalau nggak berangkat sekarang, saya bisa ketinggalan kereta.Tolong dong bilang ke Bapak Kepala.”

“Iya, Bu. Saya sudah bilang kok. Cuma kata Bapak Kepala, Bu Alea belum boleh pulang, takutnya kalau orang Inspektorat nanya-nanya, trus Ibu Kepala nggak ngerti.”

Alea semakin tidak sabar, sekarang dia setengah menyesali diri telah melakukan banyak hal untuk kantornya ini. Sebagai orang Tata Usaha yang gemas, Alea memang mengambil alih banyak pekerjaan di kantornya, sementara pemilik asli pekerjaan tersebut lebih memilih belanja ke Pasar Baru lalu kemudian balik ke kantor hanya untuk fingerprint. Tipikal.

“Alea, dipanggil ke dalam,” ujar Bu Arofah yang barusan keluar dari ruang rapat.

“Waduh, kenapa lagi ini. Kapan gue pulangnya,” gumam Alea. Namanya juga PNS kesayangan kepala, hanya bisa bergumam dan nggredundel ketika disuruh, namun tetap tersenyum kecut bin angguk-angguk di depan Bapak Kepala.

“Ini nih yang ngurusin,” kata Bapak Kepala begitu Alea masuk ke ruang rapat.

“Iya, Pak. Ada apa?” tanya Alea manis banget.

Inspektorat berjenggot yang sedang duduk di depan Bapak Kepala kemudian berbicara, “Begini Bu Alea, kami mau konfirmasi tentang pengadaan benih, kenapa pakai penunjukan langsung?”

“Iya, itu bagaimana Alea? Harusnya nggak pakai penunjukan langsung dong. di Perpres 70 kan bilang gitu. Saya kan dulu PPK, jadi tahu soal gini-gini. Kalian kok payah, sih,” timpal Bapak Kepala.

Alea menggeram namun tidak terdengar, napasnya terhela jengah di sela-sela detak jantung yang tetiba menjadi lebih cepat. Darah mengalir ke wajahnya, sehingga paras cantik itu diwarnai oleh merah, bukan merah cantik, namun semacam merah amarah. Namun apa daya, mana ada ceritanya marah sama atasan, Kepala pula. Alea memilih untuk mengatur napas, menata kalimat, untuk kemudian berkata, “Bapak, perihal penunjukan langsung untuk benih kan sudah ada di Perpres nomor 172 tahun 2014, dan tidak diubah lagi di Perpres yang paling baru. Jadi semestinya pengadaan langsung yang kami lakukan untuk benih tidak menyalahi ketentuan.”

“Memangnya ada Perpres pengadaan yang baru? Kok saya belum dapat surat resminya?” tanya Bapak Kepala dengan nada arogan, bukan nada tidak tahu.

“Ada, Bapak. 172 tahun 2014 untuk pengadaan benih saja. Kemudian ada beberapa tambahan yang lumayan banyak di Perpres nomor 4 tahun 2015. Saya sih nggak hafal perubahannya apa saja.”

“Baik, Bu Alea. Kami hanya butuh konfirmasi itu saja. Jadi yang dilakukan oleh kantor sini sudah benar, kok,” ujar Inspektorat berjenggot sambil senyum-senyum.

“Saya sudah boleh pulang, Pak?” tanya Alea kepada Bapak Kepala.

“Boleh, deh,” jawab Bapak Kepala, “Eh tapi ini sudah kan, Pak?”

“Sudah, Pak. Sudah selesai konfirmasinya.”

Alea kemudian pamit mundur dan berjalan cepat ke luar ruangan, berharap suasana tidak berubah seketika. Atau kalaupun berubah, setidaknya ketika dia sudah meninggalkan ruang rapat. Langkah Alea menjadi lebih cepat dan sejurus kemudian sudah sampai di depan mesin fingerprint. Hanya dalam kedipan mata, Alea bahkan sudah sampai di depan kantor dan memanggil tukang ojek yang secara kebetulan tinggal sisa satu.

“Stasiun, Pak.”

6926368-bench-train-station

“Stasiun mana, Neng?”

“Eleuh, si bapak. Stasiun Bandung atuh, bukan Cimahi. Cepetan ya, Pak. Keretanya jam 7.”

“Siap, Neng.”

Hanya 30 menit yang dimiliki oleh Alea untuk sampai ke Stasiun Bandung sesuai jadwal Kereta Api Turangga yang sudah dibelinya bulan lalu. Waktu yang cukup mepet mengingat jarak yang ditempuh tidaklah dekat-dekat amat, dan jalanan menuju Stasiun punya titik-titik macet yang tidak bisa diduga. Bandung memang tidak semacet Jakarta, tapi tetap saja macet.

Merupakan sebuah pemandangan menarik ketika seorang perempuan dengan seragam kantoran, sepatu berhak agak tinggi, menyandang ransel besar, dan naik ojek. Paras cantik Alea tidak tertutup, hanya rambut indahnya yang dilindungi oleh helm putih tanpa tali pengikat. Kesan terburu-buru tampak dari parasnya. Sesekali dia menepuk bahu Pak Ojek sambil berkata, “cepet, Pak.”

Sungguhpun ojek sudah dipacu sedemikian kencang, kemacetan adalah musuhnya. Kepadatan kendaraan begitu nyata, bahkan lampu merah di dekat Istana Plaza sudah menyala tiga kali ketika Alea berada di kerumunan kendaraan di dekat situ. Alea melihat lampu tersebut merah, lantas berubah hijau. Ojek yang ditumpangi Alea maju, eh, merah lagi. Dengan geregetan Alea menanti, lampu kembali hijau. Persis ketika ojek yang ditumpangi Alea hendak melintas, merah lagi. Geregetan sangat, Alea tidak henti melihat arlojinya.

Lepas dari lampu merah IP, ojek yang ditumpangi Alea melaju lurus dengan kecepatan konstan meski terdapat kepadatan. Alea mulai sumringah melihat kondisi tersebut. Terbayang olehnya untuk duduk manis di kursi 14A Kereta Api Turangga dan lantas tidur cantik di balik selimut.

“Waduh, macet, Neng,” ujar Pak Ojek begitu berbelok ke kanan. Ya, memang nyaris tidak ada celah lagi. Baik mobil pribadi, angkot, hingga sepeda motor aneka rupa tumpah ruah di jalanan satu arah menjelang Stasiun Bandung tersebut. Bahkan di Jepang tempat asal muasal mayoritas kendaraan-kendaraan inipun tidak semacet yang tampak di depan Alea.

Alea yang tadi sumringah, kembali muram. Tinggal sepuluh menit lagi pukul tujuh, dan dia masih cukup jauh dari Stasiun. Mulutnya mengutuk banyak hal, mulai dari kemacetan, orang Inspektorat yang nggak jelas maksud kedatangannya, sampai Bapak Kepala dengan segala arogansinya. Semua kena, pokoknya.

“Udah, deh, Pak. Sampai sini aja,” kata Alea sambil turun dan menyerahkan beberapa lembar uang kepada Pak Ojek, serta lantas berjalan gesit melewati beberapa sepeda motor untuk bisa sampai ke trotoar. Begitu sampai trotoar, hak sepatu Alea membentur bumi dengan daya tekan besar pada luas permukaan bidang yang sempit. Tiga empat meter, Alea masih mencoba berjalan dengan segenap beban yang dibawanya. Lima meter? Alea lantas mencopot sepatu kantor dan membiarkan kakinya nan mulus itu menjejak trotoar yang tentu saja kotor.

Rambut Alea melambai cantik seiring gerak gesitnya berlari menuju stasiun. Kerja kerasnya untuk nyeker di trotoar dan sesekali turun ke jalan beraspal kiranya hampir mencapai hasil. Stasiun Kereta Api Bandung sudah tampak di pelupuk mata Alea yang terlindungi oleh bulu mata nan lentik itu. Mata coklatnya mencoba fokus pada tujuan, sementara tubuhnya terus bergerak lincah tanpa peduli beratnya ransel yang disandangnya.

“Aduh, jauh pisan masuknya,” gerutu Alea begitu larinya sampai juga di pintu masuk Stasiun Bandung yang jamak dikenal sebagai Stasiun Hall itu. Sementara dari tempatnya masih setengah berlari, sebuah rangkaian kereta tampak berlalu. Alea segera melihat jam tangan kulit miliknya.

19.05. Uhm, bukan sebuah informasi dan pertanda yang bagus.

Langkah kaki nyeker Alea akhirnya sampai juga di pintu masuk ke peron penumpang. Si cantik itu tidak peduli bahwa jejak kakinya telah tertinggal sebagai kotoran di lantai stasiun nan mulus. Sambil berlari, dirogohnya kantong pada ransel, dan dikeluarkannya selembar kertas berwarna biru. Bergegas, Alea sampai di depan petugas penjaga pintu peron, menyerahkan tiket KA Turangga sambil terengah-engah.

“Turangga ya, Mbak?”

Alea mengangguk, tidak sanggup lagi menjawab.

“Wah, Turangga barusan berangkat, jam tujuh, sesuai jadwal.”

“Jadi, hangus nih, Pak?” tanya Alea dengan tersengal.

Petugas penjaga pintu peron ini tampak paham bahwa Alea menyampaikan sebuah retorika. Alea pun juga paham bahwa terkadang konsumen yang salah selalu mencoba beretorika untuk memetik keuntungan ataupun bebas dari kesalahan yang diciptakannya sendiri. Sekali lagi, tipikal. Alea lantas mengambil tiket Turangga yang sudah tidak laku karena tampaknya sudah dengan cepat di jalur milik sendiri. Langkahnya kemudian berubah perlahan, menuju sebuah kursi di dekat loket. Dihempaskannya ransel ke lantai, berturut-turut dengan tubuhnya yang segera menempel pada kursi. Ponsel segera jadi peraduannya, benda yang terlupakan sejak Alea berlari cepat dari kantor.

“Yas, gue ketinggalan kereta nih. Gara-gara ada orang pusat kampret kelamaan di kantor. Gimana dong? Iya, gue tahu resepsinya masih besok sorean, tapi kalau gue kereta pagi, takut nggak keburu juga. Belum kalau telat segala macam. Oh, heh? Apa? Pesawat? Dari Jakarta dong? Hmmm, ya, berarti gue nggak bobo ni malam. Ya udah, deh. Eh, poin GFF lo berapa? Ada delapan ribu nggak? Kalau ada tolong beliin ya. Ntar di Jogja gue ganti. Lagi hectic begini, nggak bisa juga gue order tiket. Oke say? Sip. Tenang aja, pasti gue lebihin. Goceng. Gimana? Hahahaha. Oke deh, gue tunggu ya.”

Alea menghela napas sejenak. Berlari mengejar kereta dan gagal bukanlah sebuah hal yang layak dicatat. Bukan, ini bukan soal ongkos tiket kereta yang hangus. Cukup sekali dinas ke Jakarta, duit segitu juga kembali. Mungkin Alea dapat menganggap bahwa tiketnya yang hangus itu adalah pencucian dari uang-uang nggak jelas yang diterimanya di kantor. Sepasang mata dengan bulu mata lentik yang sedari dari menatap tiket KA Turangga nan hangus itu kemudian beralih fokus. Kali ini ke sekitar, loket, kursi pijat, restoran fast food, dan manusia-manusia yang menanti. Dua kali melempar pandang, mata itu memilih untuk terpejam.

“Mas, aku tuh nggak suka sama stasiun.”

“Kenapa, dek?”

“Habisnya kalau ke stasiun, cuma nganter kamu ke dalam kereta, habis itu pulang sendirian.”

“Hehe, yah, tapi kan kalau pas jemput aku, kamu datang sendirian, pulangnya bawa aku.”

“Iya juga, sih.”

“Makanya,dek, tinggal diatur sudut pandangnya aja. “

Alea menyimak percakapan dari kursi yang ada di belakangnya. Ini soal sudut pandang, gumam Alea. Matanya terbuka dan tetiba menoleh kepada sebuah sudut. Terbayang olehnya kala suatu siang, dia berdiri di sudut itu, menahan tangis pun nyeri karena lebam yang ada di sekujur tubuhnya. Namun teringat pula olehnya betapa leganya dia saat itu, ketika bisa sampai ke Bandung dengan selamat, dengan lega, dengan bebas.

Mata Alea berpindah fokus ke pintu masuk. Tampak olehnya sepasang manusia berbeda jenis kelamin saling berpelukan. Ada tangis dalam pelukan itu, dan, ah, durasi pelukannya lama sekali. Bikin iri! Sekelebat, adegan berpelukan di stasiun muncul di benak Alea. Adegan yang berulang kali dimasukkan ke recycle bin oleh Alea, namun tetiba nongol lagi di Desktop. Adegan yang kadang-kadang tanpa dipencet tombol ‘Play’, berputar sendiri tanpa buffering di benak Alea.

Tangan Alea bergetar sedikit, satu-dua detik serasa hendak menahan sesuatu. Serasa tak tertahankan, tangan itu mengepal tersembunyi di sela-sela kedua kaki. Detak jantung Alea bertambah, mukanya menunduk, napas tertahan sekejap hingga sejurus kemudian didongakkannya paras ayu itu, dilepaskannya napasnya, pun genggaman tangannya kembali menjadi jari-jari lentik dan lembut.

Tangan itu segera masuk ke dalam tas yang dibawa Alea, tanpa butuh penglihatan sebuah dompet berhasil dibawa keluar. Alea membuka dompet itu dan lantas merogoh bagian tersembunyi persis di belakang tumpukan kartu member. Jari-jari lentik itu menarik sebuah foto, berlatar stasiun. Bukan Bandung, memang, tapi Solo Balapan. Ada Alea dengan paras yang masih belia di foto itu, sedang memeluk seorang pria yang tidak tampan-tampan amat.

“Kamu tetap pria paling baik yang pernah aku temui,” gumam Alea sambil mengusap lembut foto itu.

BRRRRRRRTTTT….

Seketika fokus Alea teralihkan oleh ponselnya yang bergetar. Ada Tyas di ujung sana.

“Halo, Yas? Oh, aduh syukurlah ada. Minta tolong dikirimin kode bookingnya ya, email boleh, screenshoot sudah boleh. Terserah lo aja. Apa? Iya, abis ni gue cari travel ke Cengkareng. Amanlah, gue pasti ada besok, pastikan ke mempelai, nggak mungkin Alea absen dari kawinan dia. Thanks ya cantik! Lo kalau lagi baik emang tambah cantik, Yas. Hahahaha.”

Panggilan telepon selesai, Alea menghela napasnya lagi dan lantas bergumam, “Uni, uni, semoga lo ngerti nikah itu nggak gampang.”

SATU

“Pada datang nggak, nih?”

“Datang dong! Masak nggak!”

“Di Jogja loh ini.”

Kevlar mengenang sepotong percakapan singkat itu dengan tersenyum kecut sambil duduk manis di meja kantornya. Dia sedang membuka website satu-satunya maskapai plat merah yang masih eksis. Sebagai PPIC Manager di sebuah perusahaan dengan pabrik yang tersebar di 10 kota, berada di lounge tentu bukan hal yang aneh. Dalam sebulan, Kevlar melakoni 2-3 perjalanan dari kantor pusat ke 10 pabrik yang ada di 10 kota tersebut untuk meeting keliling, untuk stock opname, dan kadang-kadang untuk cek supplier. Setiap kali terbang, Kevlar selalu ada di kelas Yankee, jadi jangan heran kalau masuk lounge adalah hal yang lebih sering dilakukannya, daripada kencan.

amis-office

Jumat malam itu, Kevlar baru saja kelar meeting rencana produksi bulanan. Lelahnya memang ada, namun sebelum pulang, lebih baik dia memanfaatkan fasilitas Wi-Fi kantor yang super kencang untuk melakukan booking tiket pesawat.

Dibongkarnya dokumen bertumpuk yang berada di rak hitem bertuliskan IN. Segalanya ada di tempat itu, mulai dari dokumen perubahan kemasan sampai dokumen pembunuhan produk yang tidak laku. Namun bukan itu yang hendak dicarinya. Sebuah benda tipis berwarna merah jambulah yang ditujunya. Kevlar menemukannya dan lantas meletakkannya di atas meja untuk lantas beranjak sebentar sambil membawa mug putih kosong.

“Belum pulang, Pri?” tanya Kevlar kepada Supri, OB yang sedang merapikan deretan meja staf PPIC yang memiliki kontur khas, berantakan dan penuh kalender. Satu meja bisa terdiri dari 2-4 kalender. Namanya juga perencana.

“Belum, Pak. Tapi kalau kawin sudah. Bapak kok belum kawin?”

Kevlar memilih tersenyum manis ala Haji Lulung, alih-alih melempar Supri dengan mug putih gimmick produk paling laris di perusahaannya. Ketika duduk kembali, diambilnya benda tipis merah jambu dari atas meja, lantas membacanya dengan lebih saksama dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Univa Lexovcha dan Jonathan Enzo Pratama. Dihelanya napas panjang, segera obrolan sebulan silam melintas di kepalanya.

“Lo jadi kawin?” tanya Kevlar begitu Enzo meletakkan undangan berwarna merah jambu di atas meja, di sela-sela piring steak, gelas bir, dan bungkus rokok yang bertebaran di atas meja.

“Jadi dong. Emangnya lo, nggak kawin-kawin,” jawab Enzo agak kurang ajar, “Jangan lupa, bro, sebulan lagi, di Jogja, kota kenangan.”

“Lo yakin?”

Sesudah sosok botak yang sedang merokok sambil bersandar di pojokan meja mengeluarkan dua kata itu, suasana kemudian menjadi hening sejenak, ditunjang dengan suasana kafe di sudut Cikini itu yang memang juga sedang sepi. Hanya suara kendaraan di Jalan Cikini yang memang padat menemani mereka. Lima lelaki yang ada di satu meja itu saling melihat. Ada nuansa berbeda yang tercipta.

“Nah, Zo. Kalau Oscar udah nanya, lo harus pikir matang-matang, deh. Dia udah kawin 9 tahun. Pas kuliah malah udah kawin. Jadi kalau soal kawin, Master Oscar jangan diragukan lagi,” terang Hugo menimpali pertanyaan singkat dari Oscar.

“Go, lo tahu, itu kecelakaan.”

“Iya, sih. Tapi nggak apa-apalah. Lo kan tetap kawin.”

“Bener. Lo pikirin lagi, Zo. Lo juga Kev,” timpal Indra.

“Kenapa?”

“Lo udah siap begadang?” tanya Oscar sembari mengangkat gelas dan kemudian menelan tiga teguk bir yang berkadar alkohol ringan ke dalam pencernaannya.

“Begadang? Lah kalau Uni nginep di apartemen, kita ya begadang!” jawab Enzo.

“Ini orang kawin atas dasar pengen ML halal kayaknya. Bukan yang itu, kampret. Kalau yang itu mah nggak usah begadang. Di sela-sela jam kuliah kayak gue dulu juga bisa. Jadi pula.”

“Terus apaan?”

Indra menyela, “Halah, paling juga begadang kalau Queen sama Sky bangun minta susu tengah malam.”

Oscar mengacungkan jempolnya kepada Indra, lalu berkata, “Ya, memang itu sih natural bakal nongol. Gue juga begadang ngurusin Queen sambil ngerjain skripsi. Pasti bisa, sih. Tapi intinya sih gue mau bilang, hidup berumah tangga beda banget sama lajang. Mengingat lo sudah lajang terlalu lama, gue mau mengingatkan itu aja.”

“Ya udah, Os, lo nanya beginian juga Enzo tetap bakalan kawin. Undangannya udah disebar gini,” ujar Kevlar mencoba menengahi.

“Iye. Lagian kalau gara-gara ngafe begini gue batalin pernikahan, lo mau nanggung rugi DP gedung sama katering gue?”

“Ya kagaklah,” kata Oscar semacam bergumam, karena dia sedang menyalakan rokoknya, “Mending duitnya buar bayar Sky masuk playgroup. Sekolah bocah hari gini mahal, Bos.”

“Ya, udah. Jadi siapa nih yang datang?” tanya Enzo.

“Yang jelas, yang single pasti datang. Iya, kan, Kev?” ujar Hugo sembari menepuk bahu Kevlar yang sedang menuang bir ke dalam gelas.

“Yoi. Lo pada datang kan?” Kevlar bertanya balik sambil melempar pandang keempat muka lelaki yang sudah mewarnai hidupnya selama 12 tahun itu. Banyak yang berubah sejak pertama kali mereka bersua dan akrab di Kos Mbah Tukirin. Oscar yang dulu gondrong, sejak nikah muda, memutuskan untuk botak. Hugo tetaplah pria berbadan besar, namun sekarang tampil klimis. Indra yang dulu kurus kering macam kekurangan gizi, sekarang buncit macam hamil muda, padahal Delia saja katanya belum hamil. Dan Enzo, mantan playboy yang menjelang pernikahan justru memperlihatkan penuaan dini via uban-uban yang berserakan di kepalanya.

“Datang, dong. Tapi gue ijin orang rumah dulu, ya,” kata Indra.

“Kalau lo gue khawatir nggak dapat ijin, Ndra. Mana mungkin Delia ngelepasin lo sendirian ke Jogja. Ntar gimana ceritanya kalau lo ketemu Tyas.”

“Kampret lo, Os.”

“Yup. Kayaknya Tyas pasti datang. Dia kan sahabatnya Uni banget. Kalau lagi berantem sama gue, curhatnya ya ke Tyas. Kalau Uni lagi nggak mau dihubungi, gue juga nanya apa-apa ke Tyas. Ntar deh gue pastikan lagi sama Uni, Tyas datang apa nggak.”

“Eh, Tyas apa kabar?” tanya Indra.

“Ini nih, contoh lelaki sok suci, ” ujar Enzo sambil menuding Indra, “Kan lo  juga tiap hari masih WhatsApp-an sama Tyas.”

“Heh? Kampret, lo tahu dari mana?”

“Hahahaha, gue emang cuma PNS, Ndra. Tapi di PNS kerjaan gue investigasi macam-macam hal. Ya, kalau lagi senggang, gue juga menyelidiki hubungan lo sama Tyas. Ngaku aja, Ndra. Kalau di rumah, lo clear chat dengan Tyas.”

“Haha. Asem. Dasar auditor gila.”

Enzo mengeluarkan duit bergambar proklamator, meletakkannya di atas meja sambil berkata, “Nih, taruhan. Di list paling atas chat WA Indra, adanya Tyas, bukan Delia. Deal, Ndra?”

“Ampun pak auditor gila. Iya, iya. Ane ngaku. Udah, fokus ke kawinan lo. Tapi tetap, gue nanya orang rumah dulu.”

“Os?”

“Bisa aja, Kev. Lo yang ngatur tiketnya ya?”

“Gue juga oke, Kev. Ngikut lo aja. Lo kan yang lajang,” kata Hugo.

“Terus kalau ntar kawinan gue, yang ngatur tiketnya siapa?” tanya Kevlar seraya menggeser bungkus rokok Oscar untuk menyediakan tempat bagi sepiring french fries yang baru tiba.

“Ya, mau gimana lagi. Selama lo belum nikah, lo lajang, lo yang harus ngatur tiketnya. Sip?” kata Oscar sambil menyemburkan asap penuh nikotin.

“Eh, lo nggak usah mikir ribet soal tiket pas lo kawinan, Kev. Lo mau kawin sama siapa juga nggak jelas. Mending lo pastikan satu hal itu aja dulu, baru lo ngomong yang lain sama kita-kita, ya nggak Zo?”

Enzo segera menganggukkan kepala ke arah Indra, sebuah fragmen bermakna menyepakati. Mereka kemudian tergelak bersama, lalu kemudian membicarakan banyak hal lainnya mulai dari kenangan hingga tentang masa depan. Begitu cair dan akan selalu demikian meski persahabatan yang diawali dari sebuah kos-kosan itu sudah berjalan lebih dari 10 tahun.

Kevlar mengingat percakapan itu sambil sekali lagi menghela napas. Tidak, dia tidak sedang lelah. Menjadi PPIC tidak melelahkan secara fisik, namun lebih bikin lelah jiwa. Maka, untuk urusan pekerjaan, sangat jarang Kevlar menghela napas, kalau mengelus dada sendiri, sering. Adalah BBM dari Oscar, pesan LINE dari Hugo, dan SMS dari Indra yang menyebabkan dirinya harus menghela napas.

‘Kev, sorry gue ga bisa ikut nikahannya enzo. Sky opname. Ntar gue nitip ya, kirim nomor rek lo. Thanks’

Dua hari yang lalu, ketika Kevlar baru saja mendarat dari Kupang, Oscar mengirimkan BBM tersebut. Kevlar tentu tidak bisa membalas apapun selain bilang oke. Si imut Sky yang bilang nama bapaknya masih ‘okal’ itu tentu lebih penting daripada sekarang menyalami Enzo dan Uni di pelaminan. Toh, Enzo dan Uni bisa disalami di apartemennya nanti, kapan-kapan.

Berkaca dari Oscar, Kevlar kemudian mengirim pesan singkat kepada Hugo. Siapa tahu bapak yang satu ini juga mengalami kendala sehingga tidak bisa hadir. Eh, balasannya ternyata tidak sesuai keinginan tapi sejalan dengan dugaan.

Kev. Gue fold ke Jogja. Gisel tiba-tiba disuruh dinas. Juna nggak ada yang jaga.

Kalimat berikut dari Hugo juga nggak jauh berbeda dengan Oscar. Pantas saja mereka berteman baik, isi otaknya sama.

Ntar gue nitip, ya. Jangan lupa kirim nomor rekening lo.

Ya, Hugo juga menarik diri. Hugo tentu mengalami problem yang serupa. Di saat mencari pengasuh yang baik hati dan setia adalah hal yang sangat susah di Jakarta ini, meninggalkan Juna yang rambutnya belum tumbuh itu bersama pengasuh tentu menjadi hal yang tidak mungkin.

Harapan satu-satunya untuk kondangan tidak sendirian adalah Indra. Namun belum lagi Kevlar bertanya, tiba-tiba Indra sudah mengirimkan pesan yang menyimpulkan segalanya.

Kev. Sorry pisan. Tapi Delia ngajak gue kondangan ke Garut. Bestfriendnya gitu yang nikah. Jadi ya gue skip ke Jogja. Sorry. Jangan lupa SMS nomor rekening lo. Gue nitip. Thx.

Ya, Kevlar pada akhirnya menjadi satu-satunya yang bisa menghadiri pernikahan Enzo di Jogja. Sebenarnya bisa saja dia mangkir dengan alasan disuruh ke Kendari, namun hati kecilnya tetap ingin menyenangkan hati Enzo, auditor pemerintah yang tinggal di apartemen itu. Kevlar lantas membatalkan niat untuk membeli tiket secara berjamaah, dan kemudian dengan fasilitasnya sebagai pemegang kartu Gold menjelang Platinum, Kevlar membeli tiket secara online untuk penerbangan besok pagi. Membeli tiket tanpa mengucap satu patah katapun.

Kevlar menghela napas lagi. Begitu order tiket selesai dan sudah dicetak di printernya nan paling canggih sekantor ini, tiba-tiba tangannya bergerak menuju laci paling bawah dari meja kerjanya. Ditariknya laci berwarna abu-abu itu, diangkatnya beberapa dokumen dan ditariknya sebuah map coklat.

Diletakkannya map coklat kusam tersebut bersebelahan dengan laptopnya. Tidak tebal benar map itu, karena begitu dibuka, isinya hanya beberapa lembar kertas dan foto, serta sebuah benda tipis yang mirip dengan undangan pernikahan Enzo. Kevlar menatap sebuah foto yang ramai isinya. Ada Enzo dan Uni yang akan menikah besok, ada juga Tyas dan Indra–yang batal menikah, ada pula dirinya dan seorang gadis yang memeluknya begitu erat. Ada juga Queen yang bentuknya masih sangat mungil, digendong oleh Ricka. Oscarlah yang mengambil foto bersejarah ini.

Kevlar mengambil foto lainnya, kali ini hanya ada bayangan dua pasang manusia yang terekam lensa. Ada Enzo, Uni, dia, dan gadis yang sama dengan foto sebelumnya. Foto ini diambil ketika sunset di Pantai Ngobaran, Gunungkidul. Sekilas, mata Kevlar mulai berkaca-kaca.

“Permisi, Pak.”

“Eh, kamu Supri.”

“Iya, Pak. Saya Supri.”

“Iya, saya tahu. Kenapa?”

“Ruangannya boleh dibersihkan, Pak?”

“Oke. Silakan aja.”

Supri yang asli Temanggung itu masuk sambil membawa perkakas lengkap pembersihan. Memang, sudah pukul 19.00, sudah waktunya Supri untuk membersihkan seluruh ruangan yang ada di kantor ini. Kevlar tidak ingin membuat Supri pulang lebih malam, maka dibiarkannya sama Supri masuk dan membersihkan ruangannya.

Neng, setasion balapan kuto Solo sing dadi kenangan kowe karo aku….,” gumam Supri sambil mengelap rak buku di ruangan Kevlar.

Kevlar mendengar sekilas gumaman Supri, dan muatan gumam itu kemudian membuatnya membalik-balik kertas dan foto yang ada di dalam map. Dalam empat langkah, sebuah foto sudah dipegangnya. Ya, sebuah foto di Stasiun Balapan, Solo. Kali ini tidak ada Tyas, tidak ada Queen, tidak ada Enzo, tidak ada Uni, tidak ada siapapun, selain dia dan gadis yang memeluknya. Kevlar tersenyum kecil melihat foto tersebut.

“Kenapa, Pak? Kok senyum-senyum sendiri?” tanya Supri sambil jongkok mengelap kaki meja Kevlar.

“Nggak apa-apa, Pri. Kamu kok pengen tahu gitu.”

“Soalnya Bapak mesam-mesemnya persis kayak Mamat, OB di Quality,” ujar Supri dengan logat yang sangat medok.

“Emang dia mesam-mesem pas kapan, Pri?”

“Kalau di kontrakan, dia sering mesam-mesem kalau lihat foto mantannya, Pak.”

“Uhuk. Uhuk!” Sepersekian detik lamanya Kevlar terbelalak mendengar perkataan Supri dan detik berikutnya dia tersedak kemudian terbatuk.

“Eh, Pak Kevlar, mboten nopo-nopo toh?”

“Uhuk. Ngg.. nggak apa-apa kok Pri. Nggak apa-apa. Kamu bikinin saya teh manis anget aja, deh.”

“Siap, Pak.”

Supri kemudian meninggalkan ruangan Kevlar dengan meninggalkan perkakas mengelap yang memang belum selesai. Kevlar sendiri kembali fokus pada foto yang dipegangnya. Ada pelukan dan senyum kebahagiaan nan sederhana di dalam foto tersebut. Kevlar kembali tersenyum.

Sambil tetap tersenyum, Kevlar menuju ke dokumen yang terletak di bagian paling belakang dari map coklat tersebut. Sebuah benda berukuran mirip dengan undangan pernikahan Enzo dan Uni yang terkapar di meja Kevlar. Oh, bukan mirip, memang benda itu adalah undangan pernikahan. Sambil menghela napas, Kevlar menarik undangan itu dan membukanya.

Seketika senyum kecil menghilang dari bibir Kevlar. Tangannya bergetar ketika membuka undangan tersebut. Ada foto sepasang manusia di halaman depan. Seorang lelaki agak botak dan berkumis tebal berdiri dengan jas yang mewah tampak memeluk seorang perempuan cantik yang begitu anggun dalam balutan gaun putih yang tidak kalah mewahnya. Perempuan cantik yang sama dengan yang memeluk Kevlar di Stasiun Balapan.

PROLOG

Hari Bersamanya: Sebuah kejutan bernama masa lalu

* * *

Ini tentang sebuah kewajiban persahabatan, ketika gue harus kembali ke masa lalu. Sendirian pula. Bah! Hidup nyatanya tidak semakin mudah ketika usia sudah kepala tiga. Semakin tidak mudah, karena tanpa sengaja gue menemukan sebuah kejutan yang sebenarnya sangat gue khawatirkan.

* * *

Bahwa aku belum bisa berdamai dengan pernikahan, apalagi hanya sebatas resepsi, ketika sepasang pengantin yang belum tentu akan akur hingga akhir hayat dipajang di depan umum untuk disalami. Buatku, kalau tidak karena orang yang berdiri di pelaminan adalah orang yang berhasil mencegahku untuk bunuh diri, maka aku tidak akan hadir.

Dan kenapa pula dia harus muncul di hadapnku saat ini, setelah semua luka yang pernah terjadi?

* * *